Buku, Buku dan Buku A Room Without Books Like a Body Without Soul

Review Buku Negeri Para Bedebah

December 20

Negeri Para Bedebah

Judul Buku : Negeri Para Bedebah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 440 Halaman
Harga : Rp. 60.000
ISBN : 9789792285529

Baru kali ini seorang Tere Liye menulis soal ekonomi dan intrik seputar dunia perekonomian.

Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata.
Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah.
Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berkhianat.

Seperti yang diketahui banyak orang, Tere Liye biasanya menulis tentang kemanusiaan, persaudaraan dan gak jauh lah dari itu. Ya beberapa buku juga tentang cinta. Tapi buku Negeri Para Bedebah ini adalah buku pertama Tere Liye seputar dunia perekonomian. Secara ya memang Bang Tere ini emang orang ekonomi aslinya, seorang akuntan. Jadi, saya pikir memang mungkin lebih mudah buat Bang Tere untuk menuliskan buku ini. Saya termasuk orang yang menunggu buku bertema ini keluar.

Negeri Para Bedebah menceritakan Thomas, seorang ekonomi ternama yang malang melintang dalam dunia ekonomi. Jadi pembicara sana sini, keluar negeri yang ternyata punya masa lalu yang ingin dia abaikan.

Read the rest of this entry »

Review Buku 86

April 20

cover 86

Judul Buku : 86
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 256 Halaman
Harga : Rp. 45.000
ISBN : 9789792267693

Apa yang ada dalam benak kalian ketika mendengar istilah 86 (delapan enam) ?
Jujur saja, saya berasa denger polisi yang sedang bertugas. Awalnya saya pikir 86 itu berarti sebuah istilah untuk mengatakan setuju atau ‘oke’. Ternyata saya kurang tepat. Istilah lapan enam atau dalam huruf ditulis ”86” adalah salah satu kode atau sandi yang harus dipahami oleh anggota polisi. Sandi itu memiliki arti sama-sama mengerti atau memahami. Makin kesini, istilah 86 ini jadi berarti ‘beres’. Ya, semua bisa ‘beres’ asal ada ‘pelicin’nya. Nah, isu inilah yang diangkat oleh Okky Madasari dalam buku keduanya.

Dikemas dalam sebuah novel, 86 ini saya rasa mampu menyodorkan gambaran Indonesia saat ini. Membuka mata saya akan banyaknya hal yang KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pun rasanya sulit untuk membunuhnya. Saya rasa Okky mempunyai nyali besar untuk membuat novel seperti ini, mengangkat isu yang ‘rawan’ diberitakan dan ini membuat saya salut.

Menceritakan Arimbi, seorang gadis desa yang beruntung keterima jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) sebagai seorang juru ketik di sebuah pengadilan di Jakarta. Setelah 4 tahun menjadi pegawai yang ‘lurus-lurus’ aja akhirnya Arimbi mulai pengen kenal banyak pengacara demi sedikit-sedikit belajar ‘minta bonus’ dari pekerjaannya. Ini semua juga di dukung sama teman sekantornya dan juga pacarnya, Ananta.

Read the rest of this entry »