Buku, Buku dan Buku A Room Without Books Like a Body Without Soul

Baca Ebook Gratis dengan Ipusnas

March 18

Bagi kamu pecinta ebook, kalo sampe belum nyobain aplikasi Ipusnas rasanya sayang banget.

Saya juga awalnya bukan penyuka ebook, tapi setelah punya Kindle dan harga buku terasa mahal, ebook adalah suatu pilihan bijak dalam hal membaca. Kita tetap bisa membaca dengan membeli ebook yang harganya relatif lebih murah. Ya walau resikonya kita gak punya koleksi fisik bukunya.

Setelah Kindle akhirnya Google Playbook hadir, lumayan bisa mengisi kekosongan hati jika ingin segera membaca buku yang diincar, koleksinya pun terbilang banyak dari buku lokal dan import dan harganya lebih miring dibanding beli buku fisik dong. Untuk Google Playbook, dia jarang banget ngasih diskon untuk beli ebooknya tapi biasanya di hari-hari libur sering ada promo sih yang bisa dilihat-lihat.

Setelah Google Playbook hadir lalu ada Gramedia Digital yang membuat saya menjadi gemar membaca ebook. Bayangkan saja, hampir semua buku-buku terbitan Gramedia grup ada di sana pun dengan buku-buku baru. Jelas saja ini menjadi kesukaan saya, hematnya lagi bisa berbagi akun untuk menikmati fasilitas premiumnya. Hemat banget dan bikin ketagihan. Sampai saat ini saya sudah menikmati puluhan ebook di GD.

Saya mungkin orang yang telat menyadari bahwa Perpustakaan Nasional Indonesia juga punya koleksi ebook, mereka menamainya Ipusnas. Dengan download aplikasi Ipusnas dan registrasi melalui web dengan mudah kita semua bisa menikmati banyak ebook kapan saja dari gadget.

Read the rest of this entry »

Januari 2019 Bulan Baca Joko Pinurbo

February 4

Tahun 2019 udah masuk bulan Februari aja nih. Bentar lagi saya ulang tahun, boleh lho kalo ada yang mau ngasih hadiah gitu, shelf wishlist ada di Goodreads kok. Alhamdulilah, Januari bisa dilalui dengan tidak beli satu buku pun. Rasanya seneng banget bisa puasa beli buku lagi, setelah tahun lalu tercatat saya beli 90an buku. Ya walau banyak buku obralan dari Gramedia, tetap aja kan namanya beli buku.

Akhir tahun lalu saya gak lagi baca ebook di Gramedia Digital (GD) karena alasan terkait pembayarannya. Eh alhamdulilah, awal tahun Kak Desty nawarin bareng patungan GD , jadi bisa balik baca ebook di sana deh. Dari sana lah asal muasal saya bisa tegak berdiri dengan pongah dan kuat hati bisa gak beli buku bulan lalu. Saya baca banyak ebook di GD.

Satu genre yang paling saya suka baca versi ebooknya yaitu buku-buku puisi. Saya suka baca bukunya tapi gak buat koleksi, jadi saya merasa cukup dengan baca ebooknya saja. Senengnya di GD banyak banget ebooknya, jadi saya bisa produktif baca.

Read the rest of this entry »

Baca Ebook via Gramedia Digital

November 14

Tahun ini saya balik lagi sering mengunjungi perpustakaan, niatnya mulia sih, pengen menumbuhkan minat baca anak-anak. Kebiasaan ini akhirnya membuat kami sekeluarga hampir tiap akhir pekan ke perpustakaan, walau si kecil lebih banyak main-main, setidaknya dia diajak untuk baca buku walau cuma sebentar. Yang sulung masih lebih enak, karena dia lebih memilih pinjam buku kemudian minggu depan dikembalikan.

Saya lalu juga ikut baca di perpus, pinjem bawa pulang juga. Karena di perpus buku fiksinya gak banyak, jadi yang paling bisa ditemui ya buku sastra populer, seperti NH. Dini, Sapardi Djoko Damono, WS. Rendra, Ahmad Tohari, dan nama-nama besar lainnya. Bacaan itu sebenarnya bacaan lama, saya sendiri udah pernah baca kebanyakan pas SMP di perpustakaan sekolah, tapi tak mengapa dibaca ulang, saat SMP kan belum ada Goodreads, jadi pastinya belum ada update-an atau ratingnya 😀

Jadilah saya akhirnya menikmati kembali buku-buku nan lawas, termasuk lah buku-buku puisinya Sapardi Djoko Damono. Buku puisi ini sebenarnya gampang sekali dinikmati pun jumlah halamannya gak banyak, jadi pasti cepet kelar dibaca. Hanya saja kadang butuh waktu untuk mengerti maksud puisi tersebut. Kadang harus dibaca berulang, kadang juga masih gak paham. Kata seorang teman, buku puisi itu enaknya dibacain orang, kita denger dan lebih mudah dimengerti. Ya kali ya, saya sih lebih suka membacanya sendiri.
Read the rest of this entry »

Buku dan Ebook, Pilih Mana?

January 26

Awal tahun 2015, saya berkunjung ke Gramedia dan mendapati beberapa buku yang memang saya ingin beli. Setelah setahun belakangan berniat gak kalap beli buku karena lemari buku udah gak nampung dan timbunan buku belum juga surut, akhirnya tahun 2015 saya beli buku lagi.

Di bulan Januari ini, saya udah beli 3 buku lokal dan terjemahan (itu belum termasuk buku aktivitas/cerita punya Alaya juga buku Ayahnya) dan…. ternyata harga buku pada naik. Ada kenaikan yang cukup besar, saya tahunya justru setelah dibawa ke kasir Gramedia, Si Mbak Kasir bilang buku ini naik harganya dari 48rb (di label harga) jadi 53rb, ya kan lumayan banget naiknya 5rb. Mbak Ira malah pernah beli yang kenaikannya lebih dari 10rb.

Apa yang kepikiran? Iya, bener. Buku sekarang mahal ya.

Saya inget dulu waktu SMP hingga SMA baca buku dari taman bacaan, sewa buku disana. Mulai dari komik hingga novel teenlit yang lagi digandrungi anak-anak muda kala itu, termasuk Harry Potter dan Dealova. Alhamdulilahnya di perpustakaan sekolah ada banyak buku fiksi semacam Goosebump, novel Mira W dan serial rakyat 😀
Saya rajin pinjem buku disana dengan satu alasan, lebih murah daripada punya bukunya, waktu itu cuma ada duit jajan yang gak seberapa, makanya cuma bisa pinjem buku 😀
Read the rest of this entry »

Review Ebook Si Badut, Orang Gila dan Bapak Presiden

December 2

Ebook @captainugros

Judul Ebook : Si Badut, Orang Gila dan Bapak Presiden
Penulis : Fajar Nugros
Penerbit : Evolitera
Jumlah Halaman : 44 Halaman
Harga : Free
ISBN : 9786028861489

Baru kali ini saya baca karyanya Fajar Nugros.
Sebenarnya nama Fajar Nugros atau di twitter dikenal dengan @captainugros sudah lama malang melintang di dunia perfilman, sebut saja film Queen Bee yang juga disebut dalam buku (ebook) ini.

Buku ini semacam kumpulan cerita tapi pendek-pendek, mungkin bisa dibilang kumpulan cerpen ala Nugros. Saya bilang seperti itu karena dengan membaca buku ini, kita jadi tau bagaimana sutradara yang katanya kacangan itu.

Seperti judulnya, buku ini memang bercerita banyak sekali tentang Badut. Ya… Badut adalah tokoh sentral yang dibuat penulis dalam semua cerpen di buku ini. Kumpulan cerpen ini bukanlah sekedar kumpulan cerpen, tapi juga saya pikir adalah unek-unek yang dituangkan penulis dalam sebuah buku. Unek-unek tentang negara ini. Jelas terlihat sekali bahwa Fajar Nugros adalah orang yang ‘ngeh’ bener dengan kondisi politik negara ini. Badut, Orang Gila dan Bapak Presiden menjadi sesuatu yang dibuat segar dalam situasi politik yang kadang membuat kita membutuhkan badut sebagai penghibur, membuat kita menjadi orang gila dan sekaligus nyindir bapak presiden.

Mungkin buku ini berat jika bercerita tentang keadaan politik negara ini, tapi penulis berhasil membuatnya menjadi lebih ringan dan terkadang membuat saya tersenyum lucu 😀

Read the rest of this entry »