January 31

Baca buku ini dimulai sejak Oktober 2019 dicicil dan baru selesai. Sengaja pelan-pelan biar bisa dirasakan, dimengerti lalu kesalip banyak buku-buku ringan lainnya juga deh. Ini tipe buku yang saya gak rela cepet-cepet kelar baca gitu.

Regis Machdy, si penulis buku ini adalah seorang psikolog lulusan universitas terbaik di Indonesia, belum lagi dia juga ambil master global mental health di Inggris, siapa yang nyangka kalo yang nulis ini pernah merasa ingin bunuh diri berkali-kali? Merasa depresi bahkan saat ia tengah bersekolah soal mental health. Cerita ini saja sebenarnya menarik, tapi buku ini lebih jauh dari itu semua tentang depresi dikupas satu demi satu dan ditulis dengan apik.

Buku-buku fiksi dan non fiksi soal mental illness sedang banyak ditulis di beberapa tahun terakhir ini. Jujur saja, saya suka. Psikologi manusia adalah hal yang tak terbatas jika diceritakan, ada banyak hal yang bisa ditelisik lebih dalam. Hebat para penulis fiksi bisa mengembangkan cerita-cerita tentang hal tersebut.

Dalam buku ini Regis tak cuma bercerita tentang dirinya, tapi depresi itu sendiri diceritakan secara lebih detil. Apa itu depresi, ciri-cirinya gimana, bagaimana bisa terjadi, faktor apa saja yang membuatnya tumbuh dan berkembang sampai ke hubungannya dengan agama dan spiritualitas. Semuanya ditulis menurut saya lengkap dengan sumber referensi dan juga cerita Regis sendiri.

Saya cukup merasa buku ini komplit karena bagi saya yang bukan lulusan psikologi sangat terbantu untuk memahami depresi ini. Walau dipenuhi dengan istilah-istilah dalam psikologi, tapi semua diberi keterangannya kok yang mudah kita mengerti.

Depresi tidak sesederhana merasa ingin mati, bunuh diri. Baik untuk kita memahaminya, agar siapapun yang merasa depresi, bisa belajar untuk memahami dirinya sendiri juga baik untuk membantu yang lainnya.

“Kita paham bahwa menyayangi diri sendiri bukanlah pekerjaan egois.
Menjaga apa yang kita makan dan menjaga suasana hati adalah wujud kasih nyata kita terhadap diri sendiri sekaligus jutaan mikroba di dalam tubuh.”