January 7
  • Judul Buku : The Silent Patient – Pelukis Bisu
  • Penulis : Alex Michaelides
  • Penerjemah : Rini Nurul Badariah
  • Jumlah Halaman : 400 Halaman
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • ISBN : 9786020633909
  • Harga : Rp. 99.000

Kalo baca buku misteri thriller gitu memang sering banget bikin penasaran, ya akhirnya bacanya bablas sampe tengah malem, kayak buku ini nih, Pelukis Bisu.

Judul buku ini terjemahannya Pelukis Bisu tapi judul aslinya The Silent Patient. Terbit pada Desember 2019 menurut saya ini buku termasuk yang cepat sekali diterjemahkan. Bukunya sendiri rilis di Februari 2019, trus akhir tahun 2019 menang sebagai buku terbaik kategori misteri dan thriller pilihan pembaca Goodreads. Wajar banget sih menang, ceritanya memang bagus.

Motivasi awal baca buku ini karena tantangan baca bulan Januari 2020 yaitu temanya buku yang menang penghargaan di 2019. Tadinya mau baca Teh dan Pengkhianat-nya Iksaka Banu tapi ternyata buku itu kumpulan cerita, jadi diputuskan baca The Silent Patient aja via Gramedia Digital. Baca buku fiksi memang bisa lebih cepat kalo bukunya bagus dan menarik.

Ceritanya sendiri tentang Alicia yang ditemukan bersama mayat suaminya, Gabriel. Di TKP hanya ditemukan suami istri tersebut dengan senjata senapan yang digunakan dalam pembunuhan tersebut. Sejak setelah kejadian tersebut Alicia yang diminta keterangan dalam persidangan seketika membisu, benar-benar tidak bicara hingga akhirnya dia dimasukkan ke rumah sakit kejiwaan.

Sebagai seorang pelukis, Alicia melukis beberapa karya yang diambil dari potret kehidupannya seperti kecelakaan yang menimpa ibunya, kehidupan masa kecilnya hingga setelah kejadian pembunuhan ia pun masih melukis sebuah lukisan diri yang diberi judul : Alcestis. Untuk mengetahui bagaimana pembunuhan terjadi haruslah memulainya dengan mengetahui apa itu Alcestis dan benarkah Alicia yang membunuh suaminya?

Buku ini diceritakan dari sisi Theo, si psikoterapis Alicia. Gak cuma itu, ada cerita dari sudut pandang Alicia tapi dalam versi buku harian. Ceritanya seperti biasa aja ya kayak konflik rumah tangga biasa gitu, tapi penulisnya pintar dalam mengemas isu kesehatan mental dalam sebuah cerita pasangan suami istri dalam buku ini.

Tema kesehatan mental itu memang jadi isu menarik sejak setahun lalu kayaknya. Banyak buku fiksi maupun nonfiksi diterbitkan dengan isu mengenai kesehatan jiwa. Saya pribadi suka, senang membacanya, tema yang sangat menarik mau ditulis dari sisi manapun, dari sisi pelajaran psikologinya, dari sisi kategorinya (banyak sekali) dari sisi si penderita (mungkin pengidap lebih tepat?), sisi psikoterapinya dsb. Buku ini juga bercerita soal itu, tentang anak-anak yang menjadi korban ‘pembunuhan’ dari orangtua mereka.

Awalnya saya merasa kok ceritanya lambat sekali, tapi saya sadar bahwa konsultasi kesehatan jiwa itu kan memang tidak gampang, perlu waktu berkali-kali konsultasi agar bisa bercerita, agar dapat disimpulkan apa yang sebenarnya terjadi dan butuh waktu juga untuk mengetahui tindakan yang tepat. Begitu juga dalam buku ini, terasa lambat tapi memang harus begitu untuk mengetahui alurnya. Pembaca diajak untuk mengikuti kehidupan Alicia dan Theo dengan pelan agar detilnya dapet.

Buku ini juga seperti buku misteri lain yang bikin pembaca menebak siapa sih sebenarnya pembunuhnya? motifnya apa? Manalagi ada beberapa tokoh yang diceritakan punya motif untuk membunuh Gabriel. Saya pun ikut menebak dan benar gitu tebakan saya, tapi tetap saja cerita dalam buku ini menarik sekali.

Bagi yang suka cerita misteri dan thriller, buku ini kudu kalian baca. Gak nyesel kok, kita jadi bisa sekalian sedikit banyak belajar psikologi.