March 17
  • Judul Buku : Mata Malam
  • Penulis : Han Kang
  • Penerjemah : Dwita Rizki
  • Penerbit : Bentara Aksara Cahaya (Baca)
  • Jumlah Halaman : 257 Halaman
  • ISBN : 9786026486127
  • Harga : Rp. 75.000

Membungkus mereka dengan bendera Korea setidaknya merupakan hal terbaik yang bisa kita lakukan. Kita bukan sekedar bongkahan daging yang bisa dibantai; jadi, setidaknya mengheningkan cipta harus dilakukan dan lagu kebangsaan harus dinyanyikan.

Buku ini adalah buku kedua dari Han Kang yang saya baca. Han Kang sendiri dikenal setelah buku pertamanya, Vegetarian menjadi favorit banyak orang, mendapat penghargaan di mana-mana hingga dijadikan sebuah film. Saya sendiri merasa begitu penasaran sehingga langsung membeli kedua buku Han Kang, Vegetarian lalu Mata Malam.

Saya merasa Vegetarian adalah buku yang menarik dari sisi cerita, tapi entah kenapa menurut saya bukan cangkir teh saya. Lalu saya merasa ragu apa harus melanjutkan dengan buku Mata Malam. Saya berikan jeda, sampai akhirnya akhir bulan Januari lalu saya mencoba membuka dan membaca Mata Malam dan baru bisa selesai malam ini.

Mungkin waktu yang lama buat saya hampir dua bulan menyelesaikan buku yang tidak sampai 300 halaman ini. Bukan, bukan karena buku ini tidak menarik. Tapi justru karena buku ini menarik, makanya saya memutuskan untuk tidak dengan mudah menghabiskan buku ini. Saya menikmatinya pelan-pelan.

Mata Malam tidak bisa dengan mudah kamu selesaikan, coba lah untuk membacanya. Di awal baca, rasanya ada rasa tersendat-sendat, entah itu rasa ngeri, muak dengan apa yang diceritakan atau malah mencoba mencerna dengan amat hati-hati. Begitulah yang saya rasakan sampai akhirnya saya memutuskan untuk pelan-pelan saja membacanya sampai harus tersalip dengan banyak buku yang lebih mudah untuk dibaca.

Peristiwa yang dikenal dengan Gwangju Uprising yang terjadi tahun 1980 adalah inti dari cerita dalam buku ini. Bagi yang belum tahu peristiwa tersebut baiknya bisa dicari atau jika mau lebih menarik bisa menonton film A Taxi Driver agar lebih mudah membayangkan peristiwa Mei bersejarah tersebut. Ya, buku ini diangkat dari kisah nyata. Penulis sendiri memang lahir di Gwangju dan baru berusia 10 tahun saat peristiwa itu terjadi.

Han Kang menulis dari banyak sisi cerita, ia menyebutnya Si Penulis, Sang Pemuda, Sang Penyunting, Sang Gadis Buruh. Hal ini yang membuat saya agak bingung sebenarnya, apalagi banyak nama-nama yang hampir mirip membuat saya harus membaca berkali-kali untuk mengerti ini siapa dan siapa. Nama Korea yang sulit ditebak apakah nama perempuan dan laki-laki juga agak membuat buku ini lagi-lagi tak mudah dicerna.

Namun buku ini memberikan rasa pedih, perih yang terasa sekali pada saya yang membaca buku ini. Han Kang mahir sekali dalam mendeskripsikan sesuatu secara detil tentang tokoh dan juga keadaan saat itu. Luka rasanya membaca buku ini yang dipenuhi dengan kengerian, darah, tembakan dan tangisan. Saya lalu membayangkan, bagaimana penulis bisa menuliskan semua hal ini? Pun dengan keluarga yang ditinggalkan dan menceritakan tentang anggota keluarga yang harus mati dalam peristiwa itu. Saya tak bisa membayangkannya.

Mungkin karena buku ini diangkat dari kisah nyata itu sebabnya saya merasa lebih menyukai buku ini daripada Vegetarian. Yang jelas walau saya kesulitan mencerna diawal cerita buku ini, tetap saja Mata Malam dituliskan dan diceritakan dengan baik. Buku ini tidak mudah dicerna jadi silakan saja dibaca dengan perlahan, rasakan penderitaan yang dialami orang-orang didalamnya dan semuanya akan terasa sekali hingga dalam hatimu