January 23
  • Judul Buku : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat ( The Subtle Art of Not Giving a F*ck )
  • Penulis : Mark Manson
  • Penerjemah : F. Wicaksono
  • Penerbit : Grasindo
  • Jumlah Halaman : 256 Halaman
  • ISBN : 9786024526986 Harga : Rp. 67.000

Tadinya saya ragu mau membaca buku ini karena masuk kategori self-improvement. Saya kadang merasa buat apa sih baca buku yang memotivasi diri begini begitu, bukankah belajar dari hidup aja sudah cukup? eaaa. Gak sih, sebenarnya saya merasa kadang self improvement terasa menggurui dan kerap kali terasa seperti membaca buku motivator.

Ternyata saya salah, tidak begitu dengan buku ini. Sebelum dia dikenal sebagai penulis buku, Mark Manson adalah seorang narablog yang sering menulis tentang hidup. Ya semua tentang hidup dari cara pandangnya. Sampai akhirnya tulisan-tulisan dia menjadi sebuah buku yang dikasih judul The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Judulnya memang agak gimana gitu ya, sampe di Indonesia diterjemahkan dengan baik menjadi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, terasa biasa jauh dari kasar.

Saya gak punya ekspektasi besar pada buku ini, beli bukunya karena kayaknya memang lagi banyak dibaca, review temen-temen di Goodreads pun rata-rata memberi penilaian yang baik untuk buku ini, ya sudah lah saya beli aja bukunya. Setelah membaca, saya harus berkata hal yang sama jika buku ini memang benar bagus, mungkin bisa membantu kita berpikir dengan sudut pandang yang berbeda.

Mark mengatakan bodo amat artinya memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan dan mau mengambil suatu tindakan. Bagi saya yang sering sekali memikirkan banyak hal, ini dan itu dan kadang merasa khawatir atas ini dan itu, rasanya gak salah dengan definisi bodo amat ala Mark ini. Saya kudu mengikuti kata Mark, kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulilan lebih banyak hal; teapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting.

Tapi bukan berarti lantas kita gak peduli akan sekitar, akan orang lain, hanya saja memang sering kali kita memedulikan hal yang sebenarnya gak penting-penting amat, dan seringkali pula kita (saya aja mungkin) kecewa akan suatu hal yang sebenarnya tak jadi soal.

Membaca buku ini seperti membaca blog memang, ada cerita yang lebih dulu diceritakan hingga pembaca dengan mudah memahami apa yang ingin disampaikan atas cerita tersebut. Tentang bagaimana kebahagiaan bisa menjadi satu masalah, bagaimana kita seharusnya tidak merasa istimewa, bagaimana penderitaan seseorang bisa menentukan nilai yang baik dan buruk.

Cerita Mark tentang didepaknya bintang rock Metallica yang akhirnya berusaha menjadi terkenal dengan Megadeth yang membandingkannya dengan didepaknya Pete Best dari The Beatles, membuat saya merasa semakin memahami bahwa kadang ingin menunjukkan kesuksesan dengan emosi itu belum berarti membuatmu bahagia akan prosesnya. Seperti jika kita ingin mewujudkan sebuat impian, kita harus lebih dulu mencintai prosesnya hingga akhirnya kita juga bisa bahagia jika mimpi itu bisa dicapai.

Di akhir buku, Mark juga menulis tentang kepergian, tentang bagaimana dia disadarkan untuk memahami sesuatu di luar diri yang bisa membuat hidupnya menjadi lebih baik.

Waktu saya membaca buku ini bisa dibilang lumayan lama, dari akhir Desember lalu dan baru selesai kemarin. Selain karena membaca buku ini menarik dan tak mau segera berakhir, saya merasa perlu memahami benar apa yang ditulis Mark dan sering kali saya menganggukkan kepala setelah membaca bab demi babnya.

Bagi yang ingin membaca buku ini, saya rasa mungkin akan lebih pas rasanya jika membaca versi asli dalam bahasa Inggris, walau tetap buku terjemahan ini dikemas dengan baik kok.