November 14

Tahun ini saya balik lagi sering mengunjungi perpustakaan, niatnya mulia sih, pengen menumbuhkan minat baca anak-anak. Kebiasaan ini akhirnya membuat kami sekeluarga hampir tiap akhir pekan ke perpustakaan, walau si kecil lebih banyak main-main, setidaknya dia diajak untuk baca buku walau cuma sebentar. Yang sulung masih lebih enak, karena dia lebih memilih pinjam buku kemudian minggu depan dikembalikan.

Saya lalu juga ikut baca di perpus, pinjem bawa pulang juga. Karena di perpus buku fiksinya gak banyak, jadi yang paling bisa ditemui ya buku sastra populer, seperti NH. Dini, Sapardi Djoko Damono, WS. Rendra, Ahmad Tohari, dan nama-nama besar lainnya. Bacaan itu sebenarnya bacaan lama, saya sendiri udah pernah baca kebanyakan pas SMP di perpustakaan sekolah, tapi tak mengapa dibaca ulang, saat SMP kan belum ada Goodreads, jadi pastinya belum ada update-an atau ratingnya ๐Ÿ˜€

Jadilah saya akhirnya menikmati kembali buku-buku nan lawas, termasuk lah buku-buku puisinya Sapardi Djoko Damono. Buku puisi ini sebenarnya gampang sekali dinikmati pun jumlah halamannya gak banyak, jadi pasti cepet kelar dibaca. Hanya saja kadang butuh waktu untuk mengerti maksud puisi tersebut. Kadang harus dibaca berulang, kadang juga masih gak paham. Kata seorang teman, buku puisi itu enaknya dibacain orang, kita denger dan lebih mudah dimengerti. Ya kali ya, saya sih lebih suka membacanya sendiri.

Sekarang, banyak banget penulis baru hadir dengan kumpulan puisi, sebut saja Aan Mansyur yang paling dikenal dengan Tidak Ada New York Hari Ini, yang beberapa puisi di dalamnya dipakai dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2. Ada lagi buku puisi singkat dengan tambahan ilustrasi dari si penulis sendiri macam Lala Bohang dengan The Book of Forbidden Feeling, Naela Ali dengan Stories For Rainy Days-nya, dan beberapa penulis lain yang banyak disukai saat ini. Sayangnya, saya merasa buku puisi zaman sekarang tergolong mahal, ditambah lagi dengan hardcover, sudah pasti harganya didiskon aja masih diatas Rp.60.000-an. Saya berada ditipe orang yang gak mau beli buku yang isinya sedikit tapi harganya banyak begitu, berasa rugi aja gitu. Ya, nemu solusinya adalah kalo gak minjem aja di perpustakaan, ya baca ebooknya saja lah, lebih murah.

Saya suka baca ebook di Kindle, iya bener, tapi kebanyakan buku berbahasa Inggris di situ, Amazon update banget lah ebooknya dengan tawaran harga yang sangat menarik. Untuk berbahasa Indonesia, saya lebih pilih baca di Google Playbook, pilihan bukunya banyak dan kalo lagi promo, bisa dapet ebook dengan harga miring. Trus, teman-teman Goodreads merekomendasikan Gramedia Digital (GD, dulunya Scoop). Awalnya saya masih maju mundur mau nyobain premium GD ini, karena takutnya udah bayar langganan tapi malah bacanya dikit, kan sayang gitu ya.

Beberapa bulan lalu akhirnya saya nyobain premium GD dengan niat yang mulia, akan banyak baca kok. Setelah nyobain ternyata beneran suka sih, ada banyak ebook (kebanyakan terbitan Gramedia grup) yang bisa didownload dan dibaca, mulai dari buku yang lama sampe buku-buku baru. Saya ketagihan, sama kayak temen-temen Goodreads lainnya. Dalam sebulan, saya bisa baca ebook di GD lebih dari sepuluh judul, ya lumayan banget sih. Apalagi buku-buku puisi, rasanya seneng banget bisa baca banyak di situ. Tambah enaknya lagi dengan 89rb/bulan bisa dipake dengan 5 device, jadilah bisa dipake buat beberapa orang, jadi patungan gitu. Dengan murah bisa banyak baca dan itu legal.

Jadi, bagi kalian yang mau nyoba baca ebook, cobain Gramedia Digital deh, bisa beli ebooknya satuan atau bisa pilih premium. Gak ada salahnya kok baca ebook, walau gak pegang buku fisik, membaca tetaplah membaca, cuma beda medianya aja.

Selamat membaca! ๐Ÿ™‚