July 25

Judul Buku : Hijrah Bang Tato
Penulis : Fahd Pahdepie
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 246 Halaman
ISBN : 9786022914334
Harga : Rp 59.000

Dalam buku ini, terasa sekali bagaimana hidayah datang dan bagaimana istiqomah itu tidaklah mudah.

Sebenarnya review buku ini sudah masuk dalam draft blog ini lama, sejak akhir tahun 2017 lalu, dan saya pun sudah selesai membaca buku ini awal Desember 2017. Tapi tak mengapa lah ya, sayang aja cuma nangkring di draft, mari kita selesaikan.

Saya sendiri udah lama gak baca bukunya Fahd, waktu itu mampir ke Toga Mas Jogja saya akhirnya membawa buku ini ke kasir. Fahd selalu menulis dengan gaya bahasa yang mudah untuk dimengerti, mudah untuk dinikmati, begitu juga dengan buku ini. Kali ini Fahd menulis tentang Bnag Tato, itu sebutannya. Sesuai dengan judulnya buku ini tentang Bang Tato dan bagaimana hijrahnya.

Hijrah sendiri sebenarnya artinya berpindah, kira-kira kalo sekarang diartikan sebagai berpindah, berubah menjadi lebih baik (lebih agamis). Memutuskan untuk selalu mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangannya gitu. Bang Tato juga begitu yang tadinya preman, tatoan, narkoba-an, memutuskan untuk kembali sholat. Pas sholat di masjid, dia harus menghadapi tatapan orang-orang yang melihat sekujur tubuhnya penuh tato. Ia akhirnya bertemu dengan ustaz yang baik mau membantunya untuk kembali sholat. Akhirnya bertemu dengan seorang perempuan yang akhirnya mau dia nikahi. Ternyata gak segampang itu juga mencari pekerjaan bagi Bang Tato untuk memberi nafkah pada istrinya. Hingga akhirnya dia dipertemukan dengan Fahd yang mengajaknya untuk bekerja dengannya. Sebelumnya, diceritakan kesulitan-kesulitan yang dialami Bang Tato selama mencari pekerjaan, kesulitan untuk punya rumah dan membeli makanan bersama istrinya.

Gak sampe di sana aja, Bang Tato harus belajar dulu menjadi ini itu agar akhirnya bisa bekerja dengan Fahd. Setelah sepertinya hidupnya terasa lebih baik, dia dihadapkan dengan kenyataan ibunya meninggal dan itu seperti pukulan keras bagi Bang Tato dan membuatnya terpuruk lagi. Di situ lah Bang Tato kembali diuji. Keliatan sekali dalam bagian ini, ternyata istiqomah itu tidaklah mudah.

Membaca buku ini memang menarik karena ini adalah kisah nyata, kita bisa menemui langsung si Bang Tato ini saat ini yang bekerja sebagai barista di kedai milik Fahd. Karena kisah nyata ini, jadi terasa bagaimana ada tangan-tangan baik yang mengingatkan kita akan banyak hal baik. Fahd juga membuat saya iri dengan bagaimana dia bisa memberi banyak dengan membuka keran rezeki buat orang lain. Banyak kalimat bagus yang quote-able dalam buku ini.

Semoga buku ini bisa menjadi tempat belajar juga bagi saya dan pembaca lainnya agar bisa melihat sisi lain orang yang mungkin selama ini dikira jahat, tampak mengerikan juga membuat kita belajar akan banyak hal tentang membantu orang lain.