October 28

Judul Buku : Diary Princesa
Penulis : Swistien Kustantyana
Penerbit : Ice Cube
Jumlah Halaman : 260 Halaman
Harga : Rp. 44.000
ISBN : 9789799106797

Apa yang biasanya disuguhkan novel teenlit?
Gak sulit menebak kalo gak tentang cerita di sekolah ya paling tentang cinta ala remaja kan ya, tapi novel ini tidak hanya menulis tentang itu tapi juga kehidupan keluarga.

Sudah lama saya gak baca novel teenlit, karena memang udah umurnya gak baca kali ya. Diary Princesa sebenarnya memang seperti kebanyakan novel tentang remaja yang lain, hanya saja saya seperti bukan membaca buku, tapi lebih ke buku harian Princesa atau Cesa seperti judulnya. Sudut pandang Cesa sebagai anak kedua dari dua bersaudara yang punya kakak perempuan, Jinan yang digambarkan berbeda sekali dengannya dan juga sebagai seorang anak dari Mamam yang memiliki toko roti dan Papap seorang peneliti.

Layaknya buku harian, pembaca akan diajak mengenal karakter Cesa dalam buku ini. Tak hanya Cesa, Jinan sang kakak pun diceritakan dan digambarkan Cesa dengan sangat baik, hingga pembaca bisa melihat bagaimana perbedaan keduanya. Cesa merasa lebih perempuan dibanding Jinan yang tomboi. Cesa pun menceritakan banyak tentang cowok-cowok di sekolahnya yang menyukai dia, kebiasaan Jinan dan bagaimana jika Jinan suka sama cowok dan bagaimana Jinan waktu putus sama pacarnya.

Swistien sebagai penulis buku ini pastinya adalah pencerita yang baik dibalik tokoh Cesa. Kita diajak mengenal tokoh dari sudut pandang Cesa, baik dan buruknya. Hanya saja karena sudut pandang Cesa, kita jadi tidak bisa merasakan cerita versi Jinan dan bagaimana perasaannya terhadap Nathan yang sebenarnya. Begitu juga dengan tokoh yang lain, seperti Mamam dan Papap.

Hampir diseperempat buku ini saya tidak melihat konflik yang berasa kecuali Cesa yang bercerita. Saya sempat menebak-nebak apa yang ingin disampaikan si penulis, mana konfliknya, apa nanti Cesa dan pacarnya, atau Cesa dan Jinan, atau rebutan Nathan mungkin?
Itu ternyata tidak saya temukan, yang muncul justru kehidupan Mamam dan Papap mereka. Memang jadi gak gampang ditebak ceritanya, tapi menurut saya ceritanya jadi gak ada klimaksnya, kurang seru aja jadinya.

Perpindahan setting dari sekolah ke rumah seharusnya bisa dipisah menurut saya, jadi agak lebih enak bacanya. Mungkin jika buku ini dibuat seolah buku harian beneran yang menggunakan font dengan jenis tulisan tangan dan bergaris akan tampak lebih bagus jadi berasa gitu baca diarynya.