November 10

Bagi yang udah baca My Cup of Tea dari Nia Nurdiansyah, mungkin pengen tahu gimana proses penulisan My Cup Of Tea. Nah, saya berkesempatan untuk bisa tanya jawab sama Mbak Nia seputar novelnya dan juga seputar dunia menulis yang digelutinya.

Sebelum tanya jawab sama Mbak Nia, berikut profilnya Mbak Nia ya :

ch-minaflo2 (Medium)
Nia Nurdiansyah
Tanggal lahir : 21 September
Pekerjaan saat ini : Penulis dan wirausaha
Twitter : https://twitter.com/nia_nurdiansyah
Blog : http://www.brama-sole.com/
Facebook : Nia Nurdiansyah

Sejak kapan suka menulis Mbak?

saya suka menulis sebenarnya sudah sejak SMP, tetapi baru serius ditekuni ketika bekerja di sebuah majalah pada kurun waktu 2005 sampai 2006. selanjutnya, pada 2009 saya mengikuti bengkel penulisan novel yg diadakan Dewan Kesenian Jakarta. Sejak itu, hobi menulisnya jadi lebih terarah.

Penulis favoritnya siapa?

Penulis favorit di Indonesia, saat SMP saya terpikat dengan karya puisi Sapardi Djoko Damono dan beberapa karya klasik angkatan balai pustaka. Tetapi kemudian di awal tahun 2000 saya mulai menyukai tulisan Ayu Utami dan Dee. Sampai hari saya masih menyukai Ayu Utami dan juga Sapardi. Sementara itu, untuk penulis luar negeri, saya menyukai karya2 John Steinbeck, Neil Gaiman, Jostein Gaarder, Coelho, dan Alan Lightman. Kalau diingat-ingat sih, rasanya saya nggak terlalu fanatik terhadap satu penulis, dan sering kali yg saya sukai berubah-ubah, hehehe.

Buku favoritnya?

Dataran Tortila-nya John Steinbeck, dan semua buku dari Jostein Gaarder

Genre buku favorit?

Nah, yang ini juga berubah-ubah. Bisa dibilang saya penyuka segala genre, tapi yg paling jarang dibaca sih yg bergenre komedi, kecuali mungkin serial Lupus. Genre fantasi dan thirller sebenernya yang paling bisa bikin saya hayut di dalamnnya, tapi kadang roman juga, hehehe.

Menurut Mbak apa manfaat menulis untuk perempuan?

Menurut saya menulis bagi seorang perempuan akan membuat dirinya lebih kuat. Kenapa? Karena menulis membuatnya terhubung dengan bagian terdalam dirinya, baik kelemahannya sendiri maupun kekuatannya. Perempuan yang tahu kelemahannya akan lebih kuat dibandingkan yang tidak. Menulis juga membantu kita kaum perempuan untuk mengakses kekuatan2 tersembunyi darinya.

Biasanya dapet ide dari mana untuk menulis novel?

Banyak sih, tetapi ide yang paling kuat muncul saat saya sendiri mengalami atau berada di sebuah kejadian. Kebetulan, saya juga bekerja di bidang psikologi, dari sana banyak sekali cerita kehidupan yang bisa diangkat.

Menurut Mbak apa tantangan menulis cerita fiksi?

Menulis fiksi itu mengharuskan kita menghadirkan suatu peristiwa secara jelas, logis, dan tajam, padahal kadang di kehidupan nyata sebuah kejadian bisa terjadi apa adanya, tetapi saat kita angkat ke layar fiksi, kita harus dapat meyakinkan pembaca bahwa hal itu nyata. Itu tantangan terberatnya. Menghidupkan tokoh2 dan membuat suatu kejadian menjadi memikat.

Bisa kasih tips gak mbak biar yang mau mencoba nulis fiksi gak mentok di tengah jalan pas menulis ceritanya?

Pengalaman saya, cerita yang mentok di tengah jalan adalah yg idenya masih samar. Sebelum mulai menulis, coba perkuat konsep ceritanya dan tuangkan dalam outline, lalu patuhi konsep itu.

Saya dengar Mbak Nia suka nonton, nonton apa nih mbak, serial Korea kah? Apa nonton juga banyak memberikan ide dalam membuat ide cerita?

Sama seperti membaca, saya juga pelahap segala jenis film. Meskipun yang paling favorit adalah berburu film-film dokumenter yg diputar komunitas film, baru-baru ini saya menonton film tentang para gadis penari hula-hula di jepang yang menjadi korban tsunami. Cerita-cerita seperti itu yang paling membangkitkan ide untuk menulis, tapi saya juga nggak menutup diri untuk menonton film kartun anak sekalipun. Malah, ada satu cerita yg juga terinspirasi dari film Finley The Fire Engine yang saya tonton bareng anak saya.

Jika Mbak Nia mendengar ada yang bilang, ‘ah novel ini mirip cerita di film ini, novel itu mirip serial korea xxx deh’, tanggapan mbak gimana?

Nothing new under the same sun. Jangankan kisah fiksi, kisah kehidupan nyata saja antara satu orang dengan orang yang lain bisa mirip. Tugas penulis unyuk membawakan cerita dengn sudut pandang baru, kadang meski sama,  nilai-nilai yang ingin disampaikan bisa berbeda.

Dapet ide darimana cerita My Cup of Tea ini mbak?

Ide awalnya dari persahabatan saya dengan seorang teman di masa kuliah, tetapi kemudian setelah tahap riset jadi berkembang ingin memasukkan dunia kuliner, terutama pastry ke dalamnya.

Apa cerita dalam buku My Cup of Tea ini semuanya fiksi atau ada berdasarkan kisah seseorang, teman/keluarga gitu?

Ada sih, sedikit kisah nyata di situ, tetapi bungkusnya tebellll, hehehe. Jadi, pada akhirnya murni fiksi.

Dalam menentukan nama tokoh dalam novel My Cup of Tea, dapet inspirasi darimana mbak? Atau karena suka aja dengan nama Sheeren, Dwipa Putra dan Artega?

Nama Art atau Artega muncul begitu saja saat menulis cerita. Nama Sheeren dan Dipi, muncul dari penggabungan judul awal novel ini, yaitu Serendipi-Tea

Ceritain dong mbak, gimana akhirnya naskah My Cup of Tea ini bisa sampai diterbitkan oleh Gagas Media?

Awalnya mengajukan ke salah satu editor GagasMedia, setelah menunggu beberapa lama dan mendapatkan beberapa kali masukan serta revisi baru deh, bisa terbit.

Berapa lama proses menulis My Cup of Tea?

Kurang lebih 6 bulan.

Apa Mbak Nia menemui kesulitan dalam mengembangkan cerita dalam buku ini?

Sebenarnya, ide cerita dan outline sudah matang, dan kesulitan justru datang dari ritme menulis yang kurang berkesinambungan.

Pesan apa yang mau disampaikan novel My Cup of Tea ini apa mbak?

Dalam kehidupan,sering kali kita tidak bisa mendapatkan semua hal secara bersamaan. Ada satu hal yang harus dilepaskan untuk mendapatkan yang lain, yang mungkin memang benar-benar takdir kita, dan kadang kita belum mengetahui mana yang paaling tepat untuk kita sampai kita menjalani pilihan tersebut.

——————–

Seneng banget bisa tanya jawab sama Mbak Nia, jadi bisa tau banyak soal dunia menulis dan juga dapet tips juga seputar penulisan.

Bagi yang mau tanya-tanya boleh lho, Mbak Nia akan dengan senang hati berbagi seputar dunia penulisan. Yang mau menghubungi Mbak Nia, bisa mention ke Twitternya kok 😉