November 7

Bagi yang udah baca novel Lampau karya Sandi Firly pasti deh banyak yang penasaran kenapa endingnya begitu, atau masih muncul pertanyaan tentang gimana selanjutnya kisah Sandayuhan? Nah nah nah,…. Saya dapet bocorannya langsung nih dari Mas Sandi.

Saya berkesempatan untuk tanya jawab sama Mas Sandi, penulis novel Lampau. Tidak terlalu banyak pertanyaan yang saya ajukan, tapi dari sana saya (dan juga pembaca) bisa tahu seputar novel Lampau dan bagaimana keseharian Mas Sandi dan juga kecintaannya terhadap menulis.

Sandi Firly lahir di Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah 16 Oktober 1975. Novel Lampau adalah buku keduanya dan saat ini masih bekerja sebagai jurnalis.
Twitter : @Sandifirly
Blog : http://sfirly.wordpress.com/
Facebook : https://www.facebook.com/sandi.firly

foto sandi firly

Berikut tanya jawab saya sama Mas Sandi :

  • Sejak kapan suka menulis Mas?

Kalau maksudnya cerita fiksi, saya menulis sejak SMA. Namun untuk publikasi di media surat kabar, ketika saya sudah kuliah semester pertama.

  • Apa karena suka menulis trus jadi jurnalis?

Mungkin iya. Karena saya merasa hanya ini yang saya bisa (menulis), saya tidak pandai bertukang, dan tidak pandai bernyanyi, hehee…

  • Biasanya nulis artikel apa di media tempat Mas Sandi kerja?

Bisanya tentang seni budaya.

  • Lebih suka nulis novel atau cerpen?

Saya menyukai keduanya. Namun menulis novel keasyikannya bisa dinikmati lebih lama.

  • Penulis favoritnya siapa?

Ada banyak penulis yang saya suka; Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk), Antonio Skarmeta (Il Postino), John Steinbeck (Of Mice and Men), serta Khaled Hosseini (The Kite Runner).

  • Buku favoritnya?

Ada banyak juga. Tapi aku ingin mengatakan; The Kite Runner (Khaled Hosseini).

  • Mas Sandi, kalau dilihat dari profil di Goodreads saya menemukan beberapa buku Mas Sandi yang sudah diterbitkan. Jadi Lampau sendiri sebenarnya buku keberapa?

Kalau untuk novel, Lampau buku kedua saya. Yang lain buku kumpulan cerpen bersama, termasuk dengan beberapa penulis lain terpilih di Ubud Writers & Readers Festival.

  • Berapa lama proses menulis Lampau? Idenya dari mana?

Sekitar 3-4 bulan.
Lampau semula berawal dari cerita pendek yang saya tulis dengan judul Perempuan Balian (cerpen ini diterbitkan koran Kompas pada Juni 2012, dan kemudian juga terpilih dan termuat dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2012)

Namun, saya merasa cerita tentang Perempuan Balian ini masih bisa saya tuliskan lebih panjang lagi dalam bentuk sebuah novel. Terlebih lagi, saya juga memiliki pengalaman terhadap setting cerita, yakni Loksado, sebuah kecamatan di pedalaman Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, yang sebelumnya sudah berkali-kali saya kunjungi.

Saya pun kemudian menarik kembali kenangan-kenangan masa lalu ketika mengunjungi kampung Malaris, Loksado, serta saat mengarungi jeram Sungai Amandit yang cukup deras dan berbatu-batu besar. Juga gunung Kantawan yang begitu menawan.

Salah satu ritual yang menarik di Loksado adalah upacara Aruh yang biasanya dilaksanakan saat akan memulai masa tanam, panen, serta pengobatan. Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang Balian, yang merupakan tokoh masyarakat setempat. Dan tokoh ini mesti seorang laki-laki, dalam struktur masyarakat setempat tidak dikenal seorang perempuan menjadi Balian. Paling tinggi jabatan seorang perempuan dalam ritual ini hanyalah sebagai pinjulang, atau pembantu Balian laki-laki.

Lalu, saya kemudian mengandaikan bagaimana bila ternyata ada seorang perempuan yang memiliki ilmu setinggi seorang Balian laki-laki? Dan dalam buku referensi yang saya baca, memang ada seorang perempuan yang memiliki ilmu setara dengan seorang Balian laki-laki.

Dalam proses penulisan, saya kemudian memasukkan tokoh Sandayuhan (Ayuh), seorang anak laki-laki dari Balian perempuan bernama Uli Idang. Ayuh sendiri adalah sebuah nama dari seorang pemuda yang diyakini sebagai nenek moyang dari suku Dayak di Pegunungan Meratus dulunya. Ayuh inilah yang kemudian justru menjadi tokoh utama dalam novel Lampau. Karena memang tokoh Ayuh yang kemudian paling berkembang, mulai dari masa kecil, perjuangannya dalam mendapatkan pendidikan, hingga kemudian merantau sampai Jakarta.

  • Gimana nih ceritanya akhirnya Gagas bisa menerbitkan Lampau? Dikirim ke beberapa penerbit lain juga kah?

Lampau tidak pernah dikirimkan ke penerbit lain. Lampau saya ajukan ke GagasMedia lewat Gita Romadhona yang menjadi editor novel ini. Kami pertamakali bertemu saat Kongres Cerpen Indonesia (KCI) di Riau tahun 2005—waktu itu Gita masih mahasiswa di UI Depok. Nah, ketika bertemu lagi lewat chatting di Facebook tahun 2012, ternyata dia sudah kerja di GagasMedia, dan kebetulan naskah novel ini sudah hampir selesai. Lalu saya tawarkan, dan… akhirnya jadilah Lampau diterbitkan GagasMedia.

  • Kalo dilihat Mas Sandi kan lahir dan besar di Kalimantan, apakah cerita Lampau sendiri terinspirasi dari kisah nyata atau fiktif?

Memang ada beberapa kejadian di dalam novel ini yang merupakan pengalaman saya pribadi, maupun orang lain. Namun secara keseluruhan hanyalah fiksi.

  • Apa sebenarnya yang menjadi tema besar Lampau?

Tentang keberanian mencintai dan bermimpi.

  • Setelah Lampau terbit dan dibaca oleh banyak pembaca, bagaimana tanggapan para pembaca sejauh ini, Mas?

Kalau tanggapan pembaca, mungkin nanyanya ke pembaca kali ya, hahaha… Atau penerbitnya. Tapi Alhamdulillah, beberapa komentar pembaca, baik lewat dunia maya atau langsung ke saya, mereka rata-rata suka, walau tetap penasaran.

  • Bagaimana dengan setting Kalimantan sendiri yang saya pikir adalah sebuah daya tarik dalam buku ini, apakah buku selanjutkan akan dibuat dengan setting Kalimantan lagi?

Ya, sekuel Lampau tetap bersetting wilayah pegunungan Meratus, Kalimantan.

  • Ending cerita masih menyisakan pertanyaan, apa akhirnya Ayuh memilih Alia atau Ranti. Juga belum ada cerita lanjutan soal Genta. Soal Amang juga. Kok saya berpikir ini akan ada lanjutan ceritanya ya, Mas? Bener gak? Atau sengaja dibuat dengan ending seperti itu?

Benar, saya sedang mengerjakan lanjutannya. Ending Lampau sendiri memang dipilih seperti itu.

  • Yang menjelma kini, yang mewujud lalu. Taglinenya dapet darimana? (saya beli buku Lampau ini karena tagline ini sebenernya :d)

Tagline itu yang bikin redaksi GagasMedia, mungkin Gita Romadhona, editornya.

———-

Yang udah nebak Lampau bakal ada lanjutannya, kalian bener tuh…. Saya juga penasaran banget sama kelanjutan ceritanya Ayuh, terlebih siapa yang bakal dipilih antara Ranti, sang cinta pertama atau Alia Makki 🙂

Bagi yang belom baca, yuks buruan dibaca….
Blom punya bukunya? Jangan khawatir, besok saya bakal ngasih giveaway berhadiah novel Lampau lho.
Tungguin ya 😉