November 6

Judul Buku : Lampau
Penulis : Sandi Firly
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 356 Halaman
Harga : Rp. 48.000
ISBN : 9797806200

Yang menjelma kini, yang mewujud lalu.

Sekitar sebulan yang lalu saya tertarik oleh buku ini karena tagline tersebut. Entah kenapa, rasanya seperti magnet yang bikin saya membawa buku ini ke kasir. Dan jika saya pikir ini buku tentang cinta seluruhnya, saya ternyata salah, bukan sekedar cinta yang menjadi tema besar buku ini.

Sandayuhan (Ayuh) lahir dari seorang perempuan balian bernama Uli Idang di Loksado, Meratus, Kalimantan Selatan. Balian sendiri diartikan sebagai tokoh masyarakat setempat yang biasanya memimpin upacara Aruh yang dilakukan saat masa tanam, panen dan juga ada yang sakit, mungkin juga seperti dukun.

Awal cerita dimulai dari surat Uli Idang pada Ayuh agar segera pulang. Setelah itu barulah flashback kehidupan Ayuh diceritakan dari ia kecil di Loksado. Lahir dari seorang balian itu berarti Ayuh juga nantinya akan mewarisi menjadi seorang balian. Sebenarnya Ayuh tidak menginginkan menjadi seorang balian. Ayuh memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke pondok pesantren.

Ibu Ayuh awalnya tidak menyetujui Ayuh melanjutkan sekolah ke pondok pesantren. Ayuh tetap pada pendiriannya dan Uli Idang pun luluh juga. Di pesantren Ayuh belajar banyak tentang agama Islam dan dia juga bertemu Abdul Ariz yang menjadi teman dekatnya. Tapi kehidupan belajar Ayuh tidak selancar itu, ia difitnah dan harus meninggalkan pondok pesantren. Hingga Ayuh sampai di ibukota dan bertemu dengan cinta pertamanya.

Tidak hanya cerita kehidupan Ayuh yang menarik. Diceritakan Amang Dulalin juga punya peran hebat dalam hidup Ayuh. Amang inilah yang menceritakan siapa sebenarnya ayah Ayuh. Kehidupan cinta Amang Dulalin pada Anna, si bule Amerika juga menarik sekali.

Dari awal pembaca diajak untuk menikmati kehidupan Ayuh dengan budaya Dayak Meratus yang kental. Setting Loksado, Kalimantan Selatan yang belum pernah saya jumpai di deskripsikan dengan jelas dan menarik sekali. Ayuh yang disebut ‘orang bukit’ karena cuma pake sandal jepit ke sekolah. Keseruan Ayuh saat bermain jeram bersama teman-temannya. Beberapa pesan Amang pada Ayuh tentang hidup pun membuat buku ini terasa membawa semangat untuk terus melanjutkan hidup di kala merasakan kesulitan.

Itulah hidup. Seperti sungai ini, tidak semuanya berjalan lancar, kita harus melewati kesulitan-kesulitan berupa jeram. Namun kita juga akan merasa puas dan lega setelah berhasil melewatinya.

Tidak ada konflik yang terlalu hebat dalam buku ini, hanya konflik dalam diri Ayuh saja yang juga tidak begitu drama menurut saya. Tapi buku ini justru membawa kita pada cerita yang mengalir dan membuat penasaran di akhir cerita. Beberapa pertanyaan jelas menghinggapi saya ketika membaca lembar demi lembar akhir buku ini. Gemez gitu deh šŸ˜€

Jika teman-teman menyukai tema cerita menggapai mimpi seorang anak daerah, maka teman-teman akan menyukai cerita dalam buku ini.

Untuk bisa mengunjungi daerah, kota dan negeri lain, tidak mesti harus memiliki harta yang banyak. Cukup dengan ilmu. Ilmu yang akan membawa kita kemana saja.