December 26

The Time Keeper – Sang Penjaga Waktu

Judul Buku : The Time Keeper – Sang Penjaga Waktu
Penulis : Mitch Albom
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 312 Halaman
Harga : Rp. 50.000
ISBN : 9789792289770

Burung-burung tidak terlambat. Anjing tidak perlu melihat jam tangan. Rusa tidak ribut-ribut tentang hari-hari ulang tahun yang telah lewat.
Hanya manusia yang mengukur waktu.
Hanya manusia yang menghitung jam.
Itu sebabnya hanya manusia yang mengalami ketakutan hebat yang tidak dirasakan mahluk-mahluk lainnya.
Takut kehabisan waktu.

Tak perlu waktu lama The Time Keeper ini langsung hadir versi Indonesianya. Sejak diterbitkan pertama kali awal September lalu, saya langsung tertarik sama buku ini. Pertama, karena Mitch Albom dan kedua ini tentang waktu. Lalu menimbang apa beli buku versi Inggrisnya aja ya (saking gak sabarnya pengen baca), tapi setelah tahu akan segera diterjemahkan. Saya cukup sabar menunggunya hingga terbit versi terjemahannya.

Seperti buku Mitch Albom yang lain, buku ini buat saya luar biasa. Bercerita tentang Dor, si pencipta jam yang dalam perjalanannya menemukan banyak orang yang menginginkan waktu, menghentikan atau menjadikannya lebih lama. Seperti itulah manusia. Hanya manusia yang menghitung waktu.

Dor akhirnya menemukan Sarah dan Victor, dua diantara banyak manusia yang menginginkan waktu. Sarah menginginkan waktunya habis dan Victor dengan segala cara menginginkan waktunya lebih lama. Keduanya dipertemukan dengan Dor dengan cara yang ajaib, di toko jam. Yang selanjutnya membawa Sarah dan Victor menyadari akan istimewanya waktu yang mereka punya.

Waktu bukanlah sesuatu yang bisa kau kembalikan. Saat berikutnya mungkin merupakan jawaban atas doamu. Menolaknya berarti menolak bagian yang paling penting dari masa depan, yaitu harapan.

Di awal, cerita tentang Dor terasa membosankan, tapi setelah itu semua mengalir dengan menarik menurut saya. Mitch Albom menceritakannya dengan sederhana tapi menyuguhkan begitu banyak makna di dalam banyak kalimat dalam buku ini. Sungguh saya membacanya dengan pelan lalu menandai setiap halaman yang punya kalimat menakjubkan di dalamnya.

Terjemahannya cukup bagus, walau ada satu dua kata pengulangan yang agak kurang pas menurut saya, tapi itu tidak membuat buku ini berkurang nilainya. Cover untuk versi Indonesia ini agak aneh, saya lebih suka cover versi aslinya yang terlihat benar-benar jam dan lebih menarik.

Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya.

Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.
Mengapa?
Supaya setiap hari itu berharga.

Mitch Albom membawa kita memaknai seberapa pun waktu yang kita punya. Mensyukurinya dan menjadikannya harapan.

Pssst… Saya jadi inget pernah nulis soal fast forward dan rewind di blog inih 😀