Buku, Buku dan Buku A Room Without Books Like a Body Without Soul

Baca Ebook Gratis dengan Ipusnas

March 18

Bagi kamu pecinta ebook, kalo sampe belum nyobain aplikasi Ipusnas rasanya sayang banget.

Saya juga awalnya bukan penyuka ebook, tapi setelah punya Kindle dan harga buku terasa mahal, ebook adalah suatu pilihan bijak dalam hal membaca. Kita tetap bisa membaca dengan membeli ebook yang harganya relatif lebih murah. Ya walau resikonya kita gak punya koleksi fisik bukunya.

Setelah Kindle akhirnya Google Playbook hadir, lumayan bisa mengisi kekosongan hati jika ingin segera membaca buku yang diincar, koleksinya pun terbilang banyak dari buku lokal dan import dan harganya lebih miring dibanding beli buku fisik dong. Untuk Google Playbook, dia jarang banget ngasih diskon untuk beli ebooknya tapi biasanya di hari-hari libur sering ada promo sih yang bisa dilihat-lihat.

Setelah Google Playbook hadir lalu ada Gramedia Digital yang membuat saya menjadi gemar membaca ebook. Bayangkan saja, hampir semua buku-buku terbitan Gramedia grup ada di sana pun dengan buku-buku baru. Jelas saja ini menjadi kesukaan saya, hematnya lagi bisa berbagi akun untuk menikmati fasilitas premiumnya. Hemat banget dan bikin ketagihan. Sampai saat ini saya sudah menikmati puluhan ebook di GD.

Saya mungkin orang yang telat menyadari bahwa Perpustakaan Nasional Indonesia juga punya koleksi ebook, mereka menamainya Ipusnas. Dengan download aplikasi Ipusnas dan registrasi melalui web dengan mudah kita semua bisa menikmati banyak ebook kapan saja dari gadget.

Read the rest of this entry »

Review Buku : Mata Malam

March 17
  • Judul Buku : Mata Malam
  • Penulis : Han Kang
  • Penerjemah : Dwita Rizki
  • Penerbit : Bentara Aksara Cahaya (Baca)
  • Jumlah Halaman : 257 Halaman
  • ISBN : 9786026486127
  • Harga : Rp. 75.000

Membungkus mereka dengan bendera Korea setidaknya merupakan hal terbaik yang bisa kita lakukan. Kita bukan sekedar bongkahan daging yang bisa dibantai; jadi, setidaknya mengheningkan cipta harus dilakukan dan lagu kebangsaan harus dinyanyikan.

Buku ini adalah buku kedua dari Han Kang yang saya baca. Han Kang sendiri dikenal setelah buku pertamanya, Vegetarian menjadi favorit banyak orang, mendapat penghargaan di mana-mana hingga dijadikan sebuah film. Saya sendiri merasa begitu penasaran sehingga langsung membeli kedua buku Han Kang, Vegetarian lalu Mata Malam.

Saya merasa Vegetarian adalah buku yang menarik dari sisi cerita, tapi entah kenapa menurut saya bukan cangkir teh saya. Lalu saya merasa ragu apa harus melanjutkan dengan buku Mata Malam. Saya berikan jeda, sampai akhirnya akhir bulan Januari lalu saya mencoba membuka dan membaca Mata Malam dan baru bisa selesai malam ini.

Read the rest of this entry »

Review Buku : Very Good Lives – Hidup yang Sangat Baik

February 25
  • Judul Buku : Very Good Lives – Hidup yang Sangat Baik
  • Penulis : J.K Rowling
  • Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Jumlah Halaman : 80 Halaman
  • ISBN : 9786020613765
  • Harga : Rp. 99.000

Kita tidak membutuhkan sihir untuk mengubah dunia; kita sudah memiliki semua kemampuan yang kita butuhkan.

Ada yang mungkin berharap J.K Rowling menulis buku non fiksi? Saya bukan termasuk di sana sebenarnya. Saya merasa penulis akan merasa di mana dia seharusnya berada, dalam genre yang dia lebih suka untuk menulis. Seperti yang kita tahu, J.K Rowling besar dengan Harry Potter bukan tanpa perjuangan. Saya bukan penyuka fiksi fantasi, tapi saya merasa betul-betul mencintai Harry Potter, pun dengan anak saya. Saya tidak berharap Rowling menulis buku non fiksi. Karena, menulis fiksi apalagi fiksi fantasi teramat sulit, butuh imajinasi dan itu adalah salah satu tema yang diangkat Rowling dalam buku ini.

Buku yang berjudul asli Very Good Lives dan diterjemahkan menjadi Hidup yang Sangat Baik ini adalah sebuah buku yang berisi pidata Rowling pada saat diminta untuk memberikan sambutan pada kelulusan Harvard. Yang menarik jika sekolah di luar negeri itu ya, yang memberikan sambutan ya orang-orang yang dinilai berpengaruh, bukan cuma karena kekuasaan saja.

Read the rest of this entry »

Januari 2019 Bulan Baca Joko Pinurbo

February 4

Tahun 2019 udah masuk bulan Februari aja nih. Bentar lagi saya ulang tahun, boleh lho kalo ada yang mau ngasih hadiah gitu, shelf wishlist ada di Goodreads kok. Alhamdulilah, Januari bisa dilalui dengan tidak beli satu buku pun. Rasanya seneng banget bisa puasa beli buku lagi, setelah tahun lalu tercatat saya beli 90an buku. Ya walau banyak buku obralan dari Gramedia, tetap aja kan namanya beli buku.

Akhir tahun lalu saya gak lagi baca ebook di Gramedia Digital (GD) karena alasan terkait pembayarannya. Eh alhamdulilah, awal tahun Kak Desty nawarin bareng patungan GD , jadi bisa balik baca ebook di sana deh. Dari sana lah asal muasal saya bisa tegak berdiri dengan pongah dan kuat hati bisa gak beli buku bulan lalu. Saya baca banyak ebook di GD.

Satu genre yang paling saya suka baca versi ebooknya yaitu buku-buku puisi. Saya suka baca bukunya tapi gak buat koleksi, jadi saya merasa cukup dengan baca ebooknya saja. Senengnya di GD banyak banget ebooknya, jadi saya bisa produktif baca.

Read the rest of this entry »

Review Buku : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

January 23
  • Judul Buku : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat ( The Subtle Art of Not Giving a F*ck )
  • Penulis : Mark Manson
  • Penerjemah : F. Wicaksono
  • Penerbit : Grasindo
  • Jumlah Halaman : 256 Halaman
  • ISBN : 9786024526986 Harga : Rp. 67.000

Tadinya saya ragu mau membaca buku ini karena masuk kategori self-improvement. Saya kadang merasa buat apa sih baca buku yang memotivasi diri begini begitu, bukankah belajar dari hidup aja sudah cukup? eaaa. Gak sih, sebenarnya saya merasa kadang self improvement terasa menggurui dan kerap kali terasa seperti membaca buku motivator.

Ternyata saya salah, tidak begitu dengan buku ini. Sebelum dia dikenal sebagai penulis buku, Mark Manson adalah seorang narablog yang sering menulis tentang hidup. Ya semua tentang hidup dari cara pandangnya. Sampai akhirnya tulisan-tulisan dia menjadi sebuah buku yang dikasih judul The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Judulnya memang agak gimana gitu ya, sampe di Indonesia diterjemahkan dengan baik menjadi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, terasa biasa jauh dari kasar.

Read the rest of this entry »

Rekomendasi Buku Untuk Anak Remaja

January 21

Sebagai seorang yang suka baca buku apa aja, saya juga membaca buku-buku yang khusus untuk anak remaja, biasanya dilabeli dengan teenlit. Ya walau udah jauh dari usia remaja rasanya tetap gak masalah kok ya kita baca buku-buku untuk remaja. Gunanya kita bisa merekomendasikan buku-buku yang bagus untuk anak-anak kita nantinya.

Saat anak udah masuk usia remaja, komik tetap jadi pilihan memang karena dipenuhi dengan gambar yang menarik. Tapi mereka udah males baca buku-buku dongeng sebelum tidur dan rasanya agak berat juga kalo kita sebagai orangtua memberi buku-buku yang buat orang dewasa menarik tapi bagi mereka gak begitu.

Saya membaca beberapa buku untuk remaja yang sepertinya bisa menjadi rekomendasi untuk anak remaja, saya infokan berdasarkan penulis yang saya tahu dan pernah saya baca ya, ini dia;

Read the rest of this entry »

Target Baca Buku 2019

January 1

Hai, selamat tahun baru 2019.

Seperti biasa, kalo awal tahun pasti waktunya menentukan target baca. Kalo tahun lalu, saya di awal banget menentukan 30 buku, trus naik 50 buku, naik lagi 80 buku sampe akhirnya berhenti di 100 buku. Saya merasa enak begitu sih ya, daripada menentukan tinggi di awal trus malah susah pada prosesnya.

Tahun 2019 ini, saya pikir set di 60 aja lah. Itu berarti saya kudu baca 1 buku dalam 1 minggu. Tidak terlalu buruk bahkan jika saya sedang malas sekalipun. Tentu saja, angka ini sangat bisa berubah naik (buatku tidak untuk diturunkan) kalo nanti saya udah bisa kelar 60 buku di pertengahan tahun, bisa aja saya tambah untuk kembali jadi 100.

Read the rest of this entry »
« Older Entries